Sometimes I believe that God wants to try me, both now and later on; I must become good through my own efforts, without examples and without good advice. Then later on, I shall be all the stronger… my shortcomings are too great. I know this, and every day I try to improve myself, again and again.
Anne Frank: The Diary of a Young Girl
Minggu ini, aku lagi intens membaca buku The Diary of a Young Girl dari Anne Frank dan tergugah karena disodorkan dengan sudut pandang Anne, seorang anak keturunan Yahudi yang berumur 13 tahun dan hidup ditengah Perang Dunia II. Selain perang yang memanas dan usaha persembunyiannya, Anne bercerita dalam diarinya tentang cekcok mulut yang Ia dan orang tuanya lakukan karena Anne tidak bersikap sesuai ekspektasi mereka. Menurut Anne, orang tuanya tidak pernah memberikan contoh yang tepat, selalu berubah-ubah, dan tidak punya waktu untuk mendengarkan penjelasannya.
Kutipan buku di atas aku rasa sangat menggambarkan frustasi seorang anak yang merasa kesal dengan dirinya sendiri karena harus dituntut menjadi anak yang “baik”, tanpa ada contoh atau dukungan dari orang sekitar sehingga Ia merasa perlu untuk selalu memperbaiki diri tiap tiap hari.
Kisah ini memvalidasi kesulitan yang anak alami ketika mengeksplorasi mengenai siapa dirinya dan harus menjadi apa Ia kelak. Sebagai seorang guru, frustasi ini aku temui bahkan sejak di level sekolah dasar. Anak yang pada dasarnya adalah peniru jago menjadikan (membutuhkan) banyak orang di sekitarnya menjadi contoh untuk ditiru, akan tetapi hanya sedikit yang benar-benar mau memberi waktu untuk mendengar, mengarahkan, dan membantu. Aku rasa ini saatnya, sebagai orang dewasa, kita membawa topik diskusi ini secara terbuka dengan anak; apa artinya menjadi manusia yang “baik” dan nilai apa yang penting untuk dibangun, serta kemauan untuk mendengar anak dan hal menarik apa yang anak temui dari orang-orang sekitarnya.
“I have my own views, plans, and ideas, though I can’t put them into words yet.“
THE GOOD PROJECT BY PROJECT ZERO
Terinspirasi dari sebuah seminar yang aku ikuti di Project Zero Classroom 2024 dari Harvard Graduate School of Education, aku ingin membagikan beberapa tools yang dapat Guru dan orang tua lakukan dengan anak. Dalam projectnya yang berjudul The Good Project, peneliti mempelajari mengenai arti kerja yang baik (good work), kolaborasi yang efektif (effective collaboration), masyarakat digital (digital citizenship), dan partisipasi kewarganegaraan (civic participation) dan berusaha mendesain pembelejaran untuk melatih kemampuan refleksi individu. Menuruthipotesa mereka, kemampuan refleksi yang baik terhadap nilai-nilai personal merupakan alat yang berguna dalam pengambilan keputusan anak untuk mengahadapi dilema dan kompleksitas yang muncul dalam sehari-hari. Salah satu tools belajar yang mereka buat adalah mengenai aktivitas menarik terkait Role Model yang anak miliki. Aku sudah coba translasi dan sesuaikan dengan konteks di Indonesia ya. Selamat mencoba!
Yuk coba aktivitas berikut!
Tujuan Belajar Aku dan Role Modelku
Mengenali dan memahami apa yang dimaksud โgood workโ dan pengaruhnya dari orang sekitar
Identifikasi tokoh yang menjadi role model anak
Refleksi nilai dan skill yang anak lihat dari role model‘
Dapat digunakan di konteks
Sekolah: Mengidentifikasi tokoh inspiratif/sejarah
Rumah: Mengidentifikasi idola anak
Tools dan materi lainnya dapat dilihat langsung di halaman website The Good Project. Selamat mencoba!
Material: Klik tautan di bawah ini untuk melihat dan download materi ya!